Ini bukan tentang apa pekerjaanmu? Atau
seberapa banyak gelar pendidikan yang kau sandang. Ini tentang manusia dan apa
yang mereka lakukan untuk hidup.
Terkadang sering melihat orang-orang yang
berjalan dengan mengangkat wajahnya, senyumnya mahal. Dari gayanya terlihat
begitu … hmmm apa ya sebutannya? “berkelas” mungkin.
Dulu pernah berpikir bahwa orang-orang
kelas satu hanyalah orang-orang yang memiliki kelebihan. Lebih banyak ilmunya,
mungkin jadi kyai atau professor. Lebih banyak hartanya, seperti para usahawan,
konglomerat dan anak cucunya. Lebih cantik/tampan, seperti para artis. Dan lebih-lebih lainnya kecuali
kelebihan berat badan.
Jadi ingat
beberapa waktu yang lalu melihat hasil kerja para kreator di sosmed, bilang
begini:
3 kegagalan yang
menyebabkan kematian:
Gagal jantung
Gagal ginjal
Gagal move on
Plus satu lagi
Gagal diet .. ada-ada aja
Semua hal berubah
seiring waktu, termasuk pikiran manusia. Setelah 29 tahun hidup di bumi, saat ini aku hanya berpikir bahwa tidak ada satu pekerjaan yang lebih
berkelas dari pekerjaan yang lain selama itu halal. Jadi bener juga sih kalo
banyak yang bilang ”kerja apa aja boleh yang penting halal”.
Bekerja adalah
ibadah yang wajib (terutama untuk
kaum adam) dalam rangka
memenuhi kebutuhan hidupnya. Orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan dasar
sampai kebutuhan tersiernya. Lantas untuk apa bekerja jika pendapatan sama
besar dengan pengeluaran, bahkan mungkin lebih kecil. Sangat kuingat ceramah di
mesjid kampus waktu masih kuliah bahwa bekerja bukan tentang hasil tapi tentang
proses. Kita tidak akan ditanya tentang berapa yang kita dapatkan, tapi kita
akan ditanya apakah kita sudah bersungguh-sungguh bekerja, bersungguh-sungguh
memilih pekerjaan yang halal, karena rejeki manusia sudah ditentukan dan
menjadi rahasianya, sehingga berbaik sangka pada Allah SWT adalah kuncinya.
Namun demikian,
tentu saja bekerja itu menyenangkan jika dengan hasil jerih payah itu kita
tidak lagi memikirkan kebutuhan makan, pakaian atau tempat tinggal tapi lebih
dari itu dapat memenuhi kebutuhan liburan keluarga, kebutuhan ibadah
haji/umrah/kurban, kebutuhan hiburan yang lain, atau untuk menjadi donatur kegiatan. Apapun pekerjaan halal yang
dilakukan jika dapat memenuhi semua itu, maka pekerjaan itu baik dan bagus.
Beberapa hari yang lalu dibuka grup alumni SMP, dari yang dulu imut-imut,
sampai sekarang semua wajah sudah terlihat dewasa. Profesi yang mereka
gelutipun beragam. Ada yang hanya jadi pedagang kaki lima tapi omzetnya wowww
fantastic baby hehehe. Ada yang jadi abdi negara di KL top 5 di negeri ini, tapi pendapatannya
biasa aja. Ada yang lulusan S1 dari univ di Jawa dan bekerja di perkebunan
kelapa sawit di tengah belantara hutan Indonesia dengan pendapatan yang juga
biasa saja. Ada pula yang menjadi enterpreneur dengan penghasilan yang biasa
tapi pengalaman yang luar biasa menembus batas negara. Jadi intinya ini bukan
tentang apa profesimu. Tapi tentang apa yang kita lakukan untuk hidup. Tak
perlu malu tapi juga jangan menjadi sombong. Teringat salah satu aksi buruh tanggal 28 November kemarin yang
menuntut kenaikan upah (UMP) Jakarta
dari Rp
2.441.000 menjadi 3,7 juta-an. Menurutku itu wajar, untuk hidup layak di Jakarta
bagi single sekurangnya kau harus punya penghasilan bersih 3 juta sebulan.
Apalagi untuk yang punya tanggungan, baik horisontal maupun vertikal. Jika
tidak, ibukota akan jadi lebih kejam dari ibu tiri, hanya bisa melihat
keindahannya dari luar atau dari tepi lapangan. Hal ini tentu bertolak dengan slogan pariwisata kita “Enjoy Jakarta”. Tentu saja peran pemerintah penting dalam
membuat dan mengawasi regulasi, tapi peran investor/usahawan juga penting untuk
memiliki sense ’memajukan kesejahteraan bangsa’. Menekan upah buruh adalah yang
paling mudah dilakukan untuk mengurangi harga, tapi dibalik itu semua perlu
kreativitas untuk tetap menjaga upah pekerja tanpa meningkatkan harga. Aku
percaya selalu ada cara jika mau mencoba. Di salah satu training pernah
diceritakan, mengapa Maskapai Air Asia mampu memberikan harga penerbangan yang
murah tapi gaji pramugari dan pekerjanya tetap di atas rata-rata. Mereka
menggunakan teknik mengurangi jam idle pesawat di bandara, sehingga pesawat
menjadi lebih produktif.
Jadi sekali lagi
ini bukan tentang apa profesi kita, tapi bagaimana kita dibayar dengan
layak dan baik. Menyenangkan jika dapat bekerja di bidang yang kita senangi
tanpa harus was-was dengan income yang kecil, daripada memaksa diri untuk
berada di profesi mainstream tapi kita tak menyukainya.
Renungan malam untuk diri sendiri bahwa di atas langit masih ada langit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar