Minggu, 22 Desember 2013

INI TENTANG HIDUP LAYAK



Ini bukan tentang apa pekerjaanmu? Atau seberapa banyak gelar pendidikan yang kau sandang. Ini tentang manusia dan apa yang mereka lakukan untuk hidup.
Terkadang sering melihat orang-orang yang berjalan dengan mengangkat wajahnya, senyumnya mahal. Dari gayanya terlihat begitu … hmmm apa ya sebutannya? “berkelas” mungkin.
Dulu pernah berpikir bahwa orang-orang kelas satu hanyalah orang-orang yang memiliki kelebihan. Lebih banyak ilmunya, mungkin jadi kyai atau professor. Lebih banyak hartanya, seperti para usahawan, konglomerat dan anak cucunya. Lebih cantik/tampan, seperti para artis. Dan lebih-lebih lainnya kecuali kelebihan berat badan.
Jadi ingat beberapa waktu yang lalu melihat hasil kerja para kreator di sosmed, bilang begini:
3 kegagalan yang menyebabkan kematian:
Gagal jantung
Gagal ginjal
Gagal move on
Plus satu lagi Gagal diet .. ada-ada aja

Semua hal berubah seiring waktu, termasuk pikiran manusia. Setelah 29 tahun hidup di bumi, saat ini aku hanya berpikir bahwa tidak ada satu pekerjaan yang lebih berkelas dari pekerjaan yang lain selama itu halal. Jadi bener juga sih kalo banyak yang bilang ”kerja apa aja boleh yang penting halal”.
Bekerja adalah ibadah yang wajib (terutama untuk kaum adam) dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan dasar sampai kebutuhan tersiernya. Lantas untuk apa bekerja jika pendapatan sama besar dengan pengeluaran, bahkan mungkin lebih kecil. Sangat kuingat ceramah di mesjid kampus waktu masih kuliah bahwa bekerja bukan tentang hasil tapi tentang proses. Kita tidak akan ditanya tentang berapa yang kita dapatkan, tapi kita akan ditanya apakah kita sudah bersungguh-sungguh bekerja, bersungguh-sungguh memilih pekerjaan yang halal, karena rejeki manusia sudah ditentukan dan menjadi rahasianya, sehingga berbaik sangka pada Allah SWT adalah kuncinya.
Namun demikian, tentu saja bekerja itu menyenangkan jika dengan hasil jerih payah itu kita tidak lagi memikirkan kebutuhan makan, pakaian atau tempat tinggal tapi lebih dari itu dapat memenuhi kebutuhan liburan keluarga, kebutuhan ibadah haji/umrah/kurban, kebutuhan hiburan yang lain, atau untuk menjadi donatur kegiatan. Apapun pekerjaan halal yang dilakukan jika dapat memenuhi semua itu, maka pekerjaan itu baik dan bagus. Beberapa hari yang lalu dibuka grup alumni SMP, dari yang dulu imut-imut, sampai sekarang semua wajah sudah terlihat dewasa. Profesi yang mereka gelutipun beragam. Ada yang hanya jadi pedagang kaki lima tapi omzetnya wowww fantastic baby hehehe. Ada yang jadi abdi negara di KL top 5 di negeri ini, tapi pendapatannya biasa aja. Ada yang lulusan S1 dari univ di Jawa dan bekerja di perkebunan kelapa sawit di tengah belantara hutan Indonesia dengan pendapatan yang juga biasa saja. Ada pula yang menjadi enterpreneur dengan penghasilan yang biasa tapi pengalaman yang luar biasa menembus batas negara. Jadi intinya ini bukan tentang apa profesimu. Tapi tentang apa yang kita lakukan untuk hidup. Tak perlu malu tapi juga jangan menjadi sombong. Teringat salah satu aksi buruh tanggal 28 November kemarin yang menuntut kenaikan upah (UMP) Jakarta dari Rp 2.441.000 menjadi 3,7 juta-an. Menurutku itu wajar, untuk hidup layak di Jakarta bagi single sekurangnya kau harus punya penghasilan bersih 3 juta sebulan. Apalagi untuk yang punya tanggungan, baik horisontal maupun vertikal. Jika tidak, ibukota akan jadi lebih kejam dari ibu tiri, hanya bisa melihat keindahannya dari luar atau dari tepi lapangan. Hal ini tentu bertolak dengan slogan pariwisata kita “Enjoy Jakarta”. Tentu saja peran pemerintah penting dalam membuat dan mengawasi regulasi, tapi peran investor/usahawan juga penting untuk memiliki sense ’memajukan kesejahteraan bangsa’. Menekan upah buruh adalah yang paling mudah dilakukan untuk mengurangi harga, tapi dibalik itu semua perlu kreativitas untuk tetap menjaga upah pekerja tanpa meningkatkan harga. Aku percaya selalu ada cara jika mau mencoba. Di salah satu training pernah diceritakan, mengapa Maskapai Air Asia mampu memberikan harga penerbangan yang murah tapi gaji pramugari dan pekerjanya tetap di atas rata-rata. Mereka menggunakan teknik mengurangi jam idle pesawat di bandara, sehingga pesawat menjadi lebih produktif.
Jadi sekali lagi ini bukan tentang apa profesi kita, tapi bagaimana kita dibayar dengan layak dan baik. Menyenangkan jika dapat bekerja di bidang yang kita senangi tanpa harus was-was dengan income yang kecil, daripada memaksa diri untuk berada di profesi mainstream tapi kita tak menyukainya.


Renungan malam untuk diri sendiri bahwa di atas langit masih ada langit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar