Rabu, 27 Maret 2013

SINDROM USIA 30


Kurang lebih 3 bulan yang lalu, gue genap berusia 29 tahun. Usia yang pastinya tidak muda lagi, walau gue menolak dibilang tua. Yaiyalah ... masih 29 gitu loh hehehe.
Gue sekarang adalah wanita dewasa. Itu yang pasti!!!
Ada hal-hal yang berubah yang bisa gue notice di usia gue yang sudah dewasa ini, di antaranya:

  1. Cara Berpakaian
Gue merasa kesukaan gue terhadap gaya berbusana agak sedikit berubah sekarang, gue lebih suka gaun panjang yang simpel, dengan bahan yang ringan dan warna netral atau warna alam.

  1. Cara Bergaul.
Suatu hari di tahun 2009, saat angkatan kami mengadakan darmawisata ke Kebun Raya Bogor, salah satu teman dekat gue yang berusia 3 tahun lebih tua dari gue, cenderung menghindari ”keramaian”,sorak sorai, tawa dan canda yang ga jelas di antara teman2. Waktu gue tanya kenapa, dia cuman senyum dan bilang bahwa dia merasa itu sudah bukan masanya lagi. Bagi dia masa ”bernorak ria” sudah lewat beberapa tahun yang lalu. Saat itu gue ga begitu ngerti apa yang dia rasa, ya sudahlah...
Tapi sekarang, 3 tahun kemudian, gue bisa merasakan apa yang dia rasa. Saat teman2 yang lebih muda masih ceng-cengan dengan tertawa lepas dan bersahut2an dengan bebas, gue merasa ga pantes lagi begitu. Sepertinya masa gue seperti itu sudah lewat. Sekarang gue merasa sudah dewasa hohoho.
  1. Cara Berpikir
Satu hal ini juga berubah, gue merasa semakin dewasa untuk yang ini. Mungkin juga karena 4 tahun terakhir ini gue sudah tinggal misah dari orang tua. Saat gue pulkam, gue merasa sudah berbeda. Gue bukan lagi gadis muda yang egois dan keras kepala . Dulu gue tidak kenal kata tidak, gue pasti merajuk, memboikot, marah, nangis. Tapi Semarang, saat gue pulang, gue adalah orang yang tenang, mampu menjadi tempat curhat buat adek gue, mampu memberi solusi.

  1. Aura Wajah
Ini yang kurang enak ngomongnya hahaha …. Yang pasti wajah gue agak berubah. Dulu masih imut, sekarang udah mulai dewasa. Buktinya, makin sering denger orang bilang “Ibu” gubrakkk.
Khusus buat panggilan ibu ini gue punya pengalaman sendiri. Seingat gue panggilan ini pertama kali terdengar tiap hari pada tahun 2011, di kantor tempat gue kerja. Saat pertama kali denger, kuping gue rasanya gatelll banget. Apa-apan ini manggil gue ibu, hahaha. Tapi seiring waktu, jadi makin terbiasa. Bener juga kata orang,walo gimanapun tidak nyaman atau tidak menyenangkannya sesuatu, pada saat dia dilazimkan, maka kita akan terbiasa.

Selain perubahan di atas, ada lagi perubahan lain yang terjadi pada diri gue, yaitu perubahan psikis. Memasuki usia gue yang pada akhir tahun depan mengunjak usia ketiga puluh, entah kenapa tiba-tiba perasaan gue jadi galau, gue jadi cemas, gue nervous.
Banyak hal yang terlintas di benak gue, mulai dari sebut aja:


  1. Pernikahan,
Sekarang kemana aja pergi melangkahkan kaki, cuman ada satu pertanyaan dengan berbagai varian ”kapan lo nikah?” ”kapan bagi undangan?” ”udah punya calonkan disana, nunggu apa lagi?” ”wahhh, kayaknya udah waktunya nih masang tenda”, ”Jadi, kapan cyin?” dan sederet pertanyaan serupa lainnya yang pastinya cuman satu ... Nanya Doang hohoho pedihhh..
Sebenernya untuk soal pernikahan ini, walaupun saudara2, temen2 n sahabat gue tuh ga nanya, gue udah mulai memikirkannya. Eaaaa.... kan gue udah dewasa ceritanya.
Gue inget persis, masalah pernikahan ini baru masuk ke otak gue saat gue berusia 26 tahun. Sebelumnya gue ga pernah berpikir tentang masalah yang satu ini. Menikah adalah ibadah dimana di dalamnya ada tanggungjawab. Hal yang sulit buat gue cerna saat itu. Dulu gue berpikir, orang yang menikah tidak akan memiliki kebebasan lagi, akan terjerat dengan kehidupan domestik yang membosankan dan menjadi akhir dari kehidupan yang menyenangkan. Karena itu, gue ga pernah berpikir untuk menikah muda. Selain pastinya ga bakal dapat ijin dari orang tua hehehe. Tapi itu dulu, by the time pikiran gue berubah, menikah adalah awal dari sebuah kehidupan yang berbeda. Karena itu pula, andaikata adek perempuan gue satu-satunya (sekarang sih tu anak baru SMP kelas 3) pengen menikah muda, gue pasti ngijinin, selama dia dan pasangannya memiliki kecocokan, komunikasi yang bagus dan komitmen yang kuat untuk mencapai masa depan yang gemilang. Jiahhhhh udah kayak baca amanat pembina upacara pas 17 Agustusan aja XD.
Sebenernya dulu gue ingin menikah di usia 27 atau 28 tahun. Ternyata lewat bo hohoho. Dulu gue pengen kriteria utama gue buat cowok terpenuhi. Ternyata ga ada yang begitu, dan kalaupun ada, mereka juga ga milih gue, jadi sama aja kan. Sampai temen gue bilang, kalo gue pengen kriteria kayak gitu, nyari buku aja terus kawinin deh tuh buku, karena cowok sempurna cuman ada di buku. Manusia ga ada yang sempurna, setidak sempurna dan penuh kekurangannya gue.
Jadi ingat kata-kata bijak yang bilang Cinta BUKAN utk mencari seseorang yg sempurna utk dicintai. Tetapi utk BELAJAR mencintai orang yg belum sempurna dgn cara yg sempurna atau yang ini Cinta itu : Bukan untuk menyempurnakan, tapi ikhlas menerima kekurangan. Bukan untuk melengkapi, hanya saling mengisi.
Iya, gue juga baru ngeh sih.... baru ngerti alias baru bisa menerima cyin.

  1. bayang-bayang orang tua gue yang makin berumur,
Ini adalah salah satu hal yang bikin gue sedih, semakin bertambah umur kita, semakin bertambah pula umur abah dan mama kita. Secara gue sekarang baru bisa pulang 1,5-2,5 bulan sekali, setiap gue pulang gue bisa melihat ada kondisi fisik yang berubah pada mereka. Mulai tampak ada kerutan di dahi dan ujung matanya. Ohhh Tuhan, gue cuman berdoa semoga abah dan mama diberikan kesehatan, umur yang panjang dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Amin.
Masih jelas dalam ingatan gue, saat-saat gue berusia 7 atau 8 tahun, belajar di depan pintu sehabis shubuh ditemani Abah. Atau sholat berjamaah magrib dengan mereka. Masih ingat dalam bayangan gue, saat mama bilang semua manusia akan mati dan gue jawab gue ga mau mati, gue ga mau mama dan abah mati. Gue juga masih ingat saat2 bercanda dengan abah, abah gue kadang tidak mencukur jambangnya tapi dia ga berjanggut. Jambangnya agak kasar, seperti rambut yang baru tumbuh, gue sering duduk di pangkuannya dan abah akan meletakkan jambangnya di dahi atau di pipi gue sambil tersenyum dan gue akan tertawa terpingkal-pingkal karena merasa geli.
Gua juga masih ingat saat2 gue berumur 5 atau 6 tahun (waktu gue TK), gue dan abah berkemah  (baca: menggunakan kelambu) di ruang tengah dekat toilet karena gue sakit diare. Waktu gue kecil, pencernaan gue selalu bermasalah.
Ramadhan 2011 Abah gue kena stroke. Pagi hari itu, abah gue masih nelpon menanyakan hasil TOEFL yang baru gue ambil, kami masih berbincang. Sore harinya mama menelpon abah jatuh sakit di kantor saat rapat. 2 hari kemudian, abah didiagnosa terkena stroke. Itu adalah saat yang paling menyedihkan dari 28 tahun kehidupan gue. saat gue benar-benar ketakutan, saat gue bahkan bisa mendengar bunyi jantung gue keluar menembus dada gue, saat gue benar2 jatuh dan meneteskan airmata gue di depan semua orang. Abah gue adalah benteng gue. Sekarang dia tidak runtuh alhamdulillah, tapi dia tidak setegar dulu. Adik laki-laki gue bilang, sekarang bukan waktunya berhura-hura, sekarang waktunya membahagiakan orang tua. Gue setuju itu.

  1. bayangan kehidupan saudara-saudara gue yang mulai berpikir ingin punya keluarga sendiri,
Adik dan kakak laki-laki gue juga mulai dewasa . Sudah sering terdengar suara-suara tetang pernikahan di rumah gue. Sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya. Yang terpikir oleh gue adalah mereka akan mempunyai keluarga kecil sendiri dan tidak akan tinggal dirumah mama abah lagi. Akan datang orang-orang asing baru yang akan menjadi keluarga baru kami. Semuanya tentu saja tidak akan sama lagi seperti dulu.

  1. bayang-bayang karir gue yang gue masih dalam kebimbangan,
Sejak di sekolah dasar, gue ingin sekali menjadi wanita karir, bekerja di perusahaan multinasional dengan mobilitas tinggi. Karena itu selepas sekolah dasar, gue ngambil kursus bahasa inggris.  Saat itu, bisa dihitung jari orang seusia gue di komplek SD gue- satu komplek ada 4 SD yang dibangun dengan model persegi, yang ngambil kursus bahasa inggris (di daerah gue pastinya). Bhs. Inggris masuk ke kurikulum SD selepas gue tamat, yi. Tahun 1996/1997. Tapi kemudian seiring waktu keinginan gue berubah, dan menjadi lebih spesifik sejak gue kuliah di tahun terakhir. Gue pengen jadi PNS saja, tapi bukan PNS biasa. PNS di instansi yang bagus. Alasannya dua: pertama, gue bukan pencari nafkah dalam keluarga, kedua, gue pengen lebih banyak waktu di rumah. Selepas kuliah, keinginan gue sedikit bergeser gue tetep ingin jadi PNS, tapi jadi dosen. Alasannya bertambah satu dari sebelumnya: ada hadits nabi yang bunyinya begini: “Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya atau anak yang shalih yang mendo’akannya”. (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad). Saat kita berilmu dan mengabdikan ilmu yang kita dapat, dan itu terus dan terus bermanfaat, maka kita akan terus menerus mendapat pahala Insya Allah.
Tapi ternyata, gue belum berjodoh menjadi dosen tahun itu. Persis saat gue lulus, kualifikasi penerimaan dosen ekonomi harus S2, pupuslah cita2 gue tahun itu untuk melamar. Dan sekarang, cita-cita pertama gue terpenuhi. Tapi, di dalam hati gue, masih tersimpan hasrat besar, gue ingin jadi dosen.

  1. bayang-bayang sisa umur gue yang makin berkurang. Yang semuanya membuat gue menjadi terlalu banyak berpikir huhuhu.
Yang terakhir ini lebih ke bentuk introspeksi gue. Banyak rekaman kejadian di 20 tahun pertama kehidupan gue, tapi sejak gue selesai sekolah dan diterima kerja, waktu terasa berputar lebih cepat tanpa banyak memori yang bisa gue ingat. Hari Senin-Jumat adalah rutinitas yang sama, weekend adalah waktu yang selalu ditunggu setiap minggu dan dengan cepat berlalu berganti bulan dan menambah bilangan tahun yang semakin berkurang.

Itu semua tentang bayang-bayang gue menghadapi usia 30 yang akan datang akhir tahun depan. Gue ga tau apa semua orang mengalaminya. Karena waktu gue googling, katanya Cuma wanita yang lebih takut menjadi tua.

Bener ga ya. Wallahu’alam.

But anyway, live your life well girls since life is so short just to be wasted J


Tidak ada komentar:

Posting Komentar