Sangat miris dan kasian, tapi apa yang bisa dilakukan? Keluarga pasien dikabarkan sangat stress hingga tak mau lagi berbincang dengan orang-orang kantor yang terus memantau perkembangan kesehatannya. Di sisi lain, pekerjaannya terbengkalai dan kegiatan kantor pun menjadi terganggu karena dia satu-satunya bendahara di tempat itu. Mungkin mudah bilang, gaji aja orang lain buat sementara waktu untuk menggantikan dia ... tapi ingat ini instansi pemerintah dengan anggaran, prosedur dan mekanisme yang telah baku yang sering tidak diketahui oleh orang yang tidak terlibat di dalamnya.
Banyak kasus serupa yang telah terjadi membuatku berpikir, mengapa setelah mengabdikan hidup untuk ibu pertiwi, sang ibu tidak membalas dengan kasih yang lebih besar saat kita memerlukannya.
Banyak senior yang mengumandangkan semboyan "we work 7 days/24 hours to serve this country and its people", tapi apa itu sebanding? Saat kita sakit apa negara akan melakukan semua hal untuk membuat kita sembuh? Negara hanya akan memberikan sebatas yang dijanjikan, dan pada akhirnya keluarga lah tempat kita bersandar. Menyokong di saat kita rapuh, menghibur di saat sedih, berbagi di saat bahagia. Kenapa kita harus mengabaikannya demi satu alasan "bekerja keras".
Aku percaya semua hal yang berlebihan itu tak baik, gunakan semuanya secara seimbang. Penuhi seluruh kewajibanmu sebaik yang kau mampu, dan ambil hakmu sesuai dengan yang telah dijanjikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar